Pirba
Jenis Bencana

Kegiatan Berdasarkan Waktu

 

Kegiatan berdasarkan jenis bencana

« Kembali


Aceh Uji Sistem Peringatan Dini Tsunami

Pembangunan sistem peringatan dini tsunami terus dilakukan perbaikan untuk mencapai kesempurnaan. Pembangunan sistem ini perlu dilakukan uji coba lapangan agar hasil yang dicapai dapat diterapkan secara baik dan benar. Uji coba ini juga dimaksud dengan tujuan untuk terus disosialisasikan kesiapsiaagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami dalam mengurangi korban dari akibat bencana.

Uji coba sistem lapangan yang dimulai sejak tahun 2005 oleh komunitas Iptek yang dikoordinasikan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi berawal di kota Padang yang termasuk daerah rawan bencana dengan karakteristik kepadatan jumlah penduduk; Tahun 2006 uji coba sistem peringatan dini tsunami dilakukan di Bali dalam skala lokal dengan karakteristik daerah wisata; Selanjutnya dilakukan di daerah Banten pada tahun 2007 yang masih dalam uji skala lokal dengan karakteristisk daerah Industri; serta pada tahun 2008 uji coba sistem tersebut dilakukan dengan skala Nasional yang dipusatkan di kota Manado, Gorontalo dan Bantul.

Pada uji coba tersebut di kota Manado yang bersamaan dengan World Ocean Conference 2009 telah dihadiri oleh negara-negara anggota. Presiden RI. SBY mengatakan bahwa pembangunan sistem peringatan dini tsunami perlu diangkat ke dalam skala Internasional. Hal ini yang memacu bagi komunitas Iptek untuk mengembangkan sistem peringatan dini yang sudah dimiliki, untuk dapat diakui dunia terutama negara Kawasan Samudera Hindia.

Indonesia salah satu anggota yang turut dalam mengembangkan sistem peringatan dini tsunami di Kawasan Samudera Hindia dari 28 negara anggota diantaranya Singapore, Australia, Malaysia, Bangladesh, Srilanka, Thailand, New Zaeland, Oman, Kenya, India, Madagascar, Venezuella, South Africa, Pakistan, Mauritus, Guyana, Comoros, Jepang, Tanzania, Seychelles, Myanmar, Maldives, Yaman. Semakin bertambah dan berkembangnya pusat peringatan dini tsunami di masing-masing negara, dirasakan perlu diuji interoperabilitasnya. PBB via UNESCO/IOC membentuk ICG/IOTWS (Inter-governmental Coordination Group on Indian Ocean Tsunami  Warning and Mitigation Systems) sebagai forum untuk mengembangkan  TEWS di Samudera Hindia.

Dalam pertemuan antara anggota ICG/IOTWS di Patrajaya Malaysia, April 2008, negara-negara anggota IOTWS membentuk ad-hoc Task Team  untuk melaksanakan IOWave 2009. Indonesia ditetapkan sebagai koordinator dalam pelaksanaan IOWave09. Dan sebagai Wakil Ketua dari Task team adalah Australia, Kenya, Thailand serta Anggotanya terdiri dari Malaysia, Srilangka dan France.

Indonesia dipilih oleh negara negara tersebut, karena Indonesia dianggap paling siap dalam sistem peringatan dini tsunami yang  mengacu  dari kejadian Tsunami pada 26 Desember 2004. Selain kejadian yang pernah dialami, Indonesia juga begitu giatnya melakukan pengembangan sistem peringatan dini tsunami.

 Tiga Tempat Sebagai Fokus Uji Coba

Dengan ditetapkan Indonesia sebagai ketua dan tuan rumah, Indonesia memilih Propinsi Aceh sebagai pusat lokasi kegiatan IOWave09 dalam uji coba lapangan sistem peringatan dini tsunami. Pemilihan Aceh dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif aceh mendukung untuk kesuksesan uji coba sistem ini.

Uji coba sistem peringatan dini dilakukan pada Kamis, 14 Oktober 2009 disesuaikan dengan kejadian pada saat tanggal 26 Desember 2004 yang lalu dengan besaran kekuatan gempa dalam waktu yang sama. Hal ini dilakukan agar uji lapangan betul-betul dapat disikapi dengan suasana yang sama.

Kota yang dijadikan lokus uji coba di Banda Aceh berfokus pada Kec. Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar berfokus di Kec. Lampu’uk dan Kota Sabang Berfokus di Kec. Suakajaya. Ketiga daerah kabupaten-kota inilah yang langsung dilakukan uji penerapan prosedur  tetap diseminasi peringatan dini dan ketanggap daruratan dilapangan sesuai dengan yang telah diuji secara akademis.

Uji sistem peringatan dini di Provinsi Aceh  akan difokuskan dalam menguji sistem rantai peringatan yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jakarta sebagai National Tsunami Warning Center (NTWC) ke Pusdalops Propinsi Aceh hingga tingkat kab/kota  dan Wakil Gubernur selaku Komando Pengendalian lalu diteruskan hingga masyarakat  dan sekolah di beberapa desa.

Hasil Uji coba peringatan dini tsunami ini diharapkan dapat disahkan sebagai peraturan dan ketetapan didalam sistem peringatan dini tsunami Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darusalam. Peraturan yang ditetapkan Pemda dapat sebagai acuan Komando Pengendalian Kabupaten dan kota Aceh serta masyarakat didalam pelaksanaan dilapangan apabila becana Tsunami terjadi kembali.

Lembaga yang terlibat dalam penyelengaraan kegiatan IOWave 2009 di Indonesia yang di koordinasikan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) antara lain BMKG, BNPB, LIPI, DEPDIKNAS, DEPKOMINFO, DEPDAGRI, DEPLU, Pemerintah Kota Banda Aceh,  Pemerintah Kota Sabang, Pemerintah Kab. Aceh Besar, MDF, UNDP, UNESCO, TDMRC-Universitas Syiah Kuala, InWent, GTZ, dan BGR.

Pada uji coba ini dihadiri oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi ,Kusmayanto Kadiman; Wakil Gubernur Nangroe Aceh Darusallam,  Muhammad Nazar; Asisten II Setda Aceh selaku Kodal Darurat Aceh, Said Mustafa; Sekretaris Daerah selaku Kodal Peringatan Dini oleh Manajer Pudalops Aceh Iskandar Muda;   Asisten Deputi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek KNRT selaku Chair Task Team Indian Ocean Tsunami Warning System, Edi Prihantoro; Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Fauzi; Wakil-wakil negara selaku observer uji coba seperti Jepang, Maldives, Srilangka dan Filipina. (humasristek)

Kirim ke Teman
Print
PDF
Kegiatan yang akan datang
  • No upcoming events